Mediatrapnews, Batang Hari – Sebuah Desa Pelosok Dan Terpencil di Perbukitan Yang Masyarakatnya Memiliki Budaya Literasi Tinggi. Orang Tua Rela Menjual Hasil Tani Karet/Sawit Dan Buruh Tani Untuk Menyekolahkan Anak Hingga Perguruan Tinggi di Kota. (12/02/2027)
Keterbatasan infrastruktur, minimnya akses internet dan ekonomi pas-pasan tidak menyurutkan semangat bagi orang tua dan anak-anak muda Desa Batu Sawar, Kecamatan Maro Sebo Ulu, Kabupaten Batang Hari untuk menggapai pendidikan tertinggi. Di tengah pandangan umum bahwa anak Desa Terpencil hanya akan berakhir sebagai buruh tani dan menjadi petani, Agung Suherman. SE. ME justru mematahkan stigma tersebut dengan meraih gelar Magister (S2) jurusan ekonomi di Universitas Jambi (Unja) dengan predikat memuaskan dan M. Zuhriansah. S.Pd. M.Pd (S2), Master Management Of Islamic Education di PTIQ University Jakarta
Desa ini memiliki puluhan sarjana (Sarjana Pendidikan, Sarjana Pemerintahan, Sarjana Ekonomi dan Sarjana Hukum), namun jalan menuju Desa tersebut melalui hutan dan sungai tidak ada jalan khusus juga tidak ada sinyal internet (Blank Spot) aliran listrik melalui Kabupaten tetangga
Desa Batu Sawar penghasil sarjana yang terisolasi. Meski banyak lahirkan Cendekiawan jalan Desa belum ada, warga Desa Batu Sawar dengan berharap jalan AMD yang tembus ke koto Boyo sampai saat ini belum terealisasi, intinya Pemerintah Daerah terkesan lambat membangun infrastruktur fisik padahal Desa Batu Sawar, Kecamatan Maro Sebo Ulu, Kabupaten Batang Hari SDM sudah unggul
Warga Desa Batu Sawar sadar pendidikan meskipun akses jalan melalui hutan, jalan perusahaan perkebunan kelapa sawit, sungai Batang Hari dan lokasi pedalaman, mereka tidak surut untuk mencapai pendidikan
Banyak pemuda kembali ke desa setelah lulus kuliah, tetapi tidak bisa membangun desa karena akses jalan yang sulit, bahkan harus menyeberangi sungai melalui sampan (perahu) ke sekolah di Kecamatan Maro Sebo Ulu
Desa Batu Sawar salah satu Desa Terpencil di wilayah pedalaman Batas Kabupaten Batang Hari dengan Kabupaten tetangga kini menjadi percontohan di daerahnya. Meskipun terisolasi secara geografis, Desa ini berhasil melahirkan puluhan sarjana (S1) dan beberapa Magister (S2)
Kepala Desa (Abdul Khalik) mengungkapkan bahwa kesuksesan ini didorong oleh program “Satu Rumah Satu Sarjana” yang diinisiasi sejak beliau menjabat Kepala Desa dan berkomitmen menyisihkan hasil tani mereka untuk dana pendidikan bersama
Abdul Khalik mengatakan kami sadar hanya pendidikan yang bisa memutus rantai kemiskinan dan keterisolasian kami. Alhamdulillah tahun ini ada dua pemuda kami yang menyelesaikan S2 dan keberhasilan ini semoga diapresiasi Pemerintah Daerah sebagai contoh baik peningkatan partisipasi pendidikan tinggi di daerah 3T (Terdepan, Tertular, Tertinggal). Sebut Abdul Khalik




