Pagar Alam, Mediatrapnews – Balai Pertemuan Rumah Dinas Wali Kota Pagar Alam pada Sabtu (7/3/2026) tidak sekadar menjadi tempat berbuka puasa bersama. Di balik momen santap takjil Ramadhan 1447 H, terselip sebuah pesan penting mengenai evaluasi dan konsolidasi kekuasaan di bawah kepemimpinan Wali Kota Ludi Oliansyah dan Wakil Wali Kota Hj. Bertha.
Acara yang dihadiri jajaran Forkopimda, DPRD, hingga insan pers ini menjadi panggung bagi Ludi untuk menunjukkan sisi rendah hatinya—sekaligus sebuah pembelaan diri atas dinamika politik yang berkembang setahun terakhir.
“Pengakuan Celah di Tengah Retorika”
Ada beberapa hal menarik yang patut dicermati dari pernyataan Wali Kota dalam kegiatan tersebut:
Dengan gaya bahasa lokal yang kental, Ludi secara terbuka mengakui adanya kelemahan dalam roda pemerintahannya selama setahun lebih memimpin. Ini merupakan langkah komunikasi politik untuk meredam kritik publik sebelum isu-isu tersebut membesar.
Menepis “Suara-Suara Luar”: Secara eksplisit, Ludi menyentuh keberadaan isu dan perdebatan yang berkembang di masyarakat. Pesannya jelas: pemerintah ingin masyarakat tetap fokus pada jalur pembangunan (on the track) dan tidak mudah goyah oleh narasi-narasi oposisi yang ia sebut sebagai “isu luar biasa”.
Sentimen “Tanah Besemah”: Penegasan bahwa pemerintahan tidak bisa berdiri tanpa dukungan masyarakat Tanah Besemah menunjukkan upaya Ludi untuk kembali menarik simpati akar rumput melalui identitas kultural yang kuat.
“Silakan isu berjalan, tapi on the track pemerintahan harus tetap lebih utama.” Sebuah kalimat yang menunjukkan determinasi Wali Kota untuk tetap melaju di tengah kritik.
Momentum atau Strategi?
Meski dibalut dengan nuansa religius Ramadhan, ajakan untuk “bergandeng tangan” ini bisa dibaca sebagai upaya merapatkan barisan. Mengingat tantangan ekonomi dan sosial yang terus bergulir, dukungan dari elemen Forkopimda dan tokoh masyarakat menjadi harga mati bagi efektivitas kebijakan Pemkot ke depan.
Pertanyaannya kemudian, sejauh mana pengakuan “kekurangan dan kelemahan tersebut akan ditindaklanjuti dengan perbaikan nyata di sisa masa jabatan? Ataukah ini hanya sekadar basa-basi politik di meja makan.
Lika




