BANYUASIN, Mediatrapnews – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Banyuasin menggelar Seminar dan Workshop Jurnalisme bertajuk “Jurnalisme Cerdas: AI Alat Bantu, Bukan Pengganti Integritas” di Auditorium Pemerintah Kabupaten Banyuasin, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi insan pers untuk meningkatkan kompetensi dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), tanpa mengesampingkan etika, akurasi, dan tanggung jawab jurnalistik.
Seminar yang dibuka langsung oleh Wakil Bupati Banyuasin, Ir. Netta Indian, S.P., M.M., tersebut diikuti 50 peserta yang terdiri atas wartawan lintas media se-Kabupaten Banyuasin serta perwakilan instansi pemerintah dan swasta.
Dalam sambutannya, Netta Indian menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuasin mendukung pemanfaatan teknologi digital untuk mendorong kemajuan dunia jurnalistik. Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan tanggung jawab, kehati-hatian, dan kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
“Kita berada di tahun 2026, di mana algoritma dan generative AI bukan lagi hal baru, melainkan kebutuhan. Pemerintah Kabupaten Banyuasin ingin melihat wartawan kita tidak hanya cepat dalam memberitakan, tetapi juga cerdas dalam memverifikasi,” tegas Netta.
Menurutnya, AI seharusnya menjadi mitra kerja yang membantu meningkatkan produktivitas wartawan, bukan menggantikan peran nurani, integritas, dan profesionalisme seorang jurnalis.
Ia juga mengingatkan adanya ancaman penyebaran hoaks, disinformasi, hingga manipulasi digital melalui teknologi deepfake yang semakin berkembang.
Karena itu, kecanggihan teknologi tidak boleh membuat wartawan lengah. Proses pemeriksaan fakta (fact-checking) dan verifikasi oleh manusia tetap menjadi langkah penting untuk memastikan setiap informasi yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, Ketua PWI Banyuasin, Wardoyo, S.I.Kom., menjelaskan bahwa seminar dan workshop tersebut dirancang untuk membangun pola pikir baru di kalangan insan pers dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Menurut Wardoyo, AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi profesi wartawan, melainkan sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan efisiensi kerja jurnalistik.
“Berkat adanya AI, wartawan bisa menghemat waktu untuk tugas-tugas teknis repetitif, seperti transkripsi wawancara, pengolahan big data, hingga penyuntingan naskah. Sehingga, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan peliputan mendalam dan investigasi,” ujar Wardoyo.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan AI tidak menghilangkan tanggung jawab profesional seorang wartawan.
Penentuan sudut pandang berita, pemeriksaan fakta, konfirmasi kepada narasumber, hingga keputusan untuk menerbitkan sebuah berita harus tetap berada di tangan jurnalis.
Wardoyo menilai, kemampuan memanfaatkan teknologi perlu berjalan beriringan dengan komitmen menjaga independensi, akurasi, dan kepercayaan publik terhadap media.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan oleh sektor badan usaha milik negara (BUMN). Deputi Bisnis PT Pegadaian Area Palembang (Sumsel-Babel), Kantor Wilayah III Sumbagsel, Rusydi Tanjung, mengapresiasi inisiatif PWI Banyuasin dalam mendorong peningkatan kapasitas insan pers di tengah perkembangan teknologi digital.
“Kemajuan AI adalah realitas yang tidak bisa kita hindari, melainkan peluang besar yang harus kita manfaatkan bersama. Pegadaian Wilayah III Sumbagsel berkomitmen untuk terus berjalan berdampingan dengan insan pers dan Pemkab Banyuasin,” ungkap Rusydi.
Ia menambahkan, edukasi kepada masyarakat mengenai literasi keuangan digital dan pemanfaatan teknologi membutuhkan dukungan media yang tepercaya, edukatif, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Melalui kegiatan ini, PWI Banyuasin diharapkan dapat mendorong lahirnya wartawan yang semakin adaptif terhadap teknologi, tetapi tetap teguh memegang prinsip jurnalistik.
Sebab, di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan kecerdasan buatan, kecepatan bukan satu-satunya ukuran kualitas berita. Akurasi, integritas, dan kepercayaan publik tetap menjadi fondasi utama dalam menjalankan profesi jurnalistik.




